Tentang rizki 2

Kamis, 31 Mei 2012



* Segala aktifitas yang kau lakukan sepanjang usia yang diberikan Allah kepadamu adalah rizkimu
    segala aktifitas yang kau perjuangkan untuk memperoleh nilai manfaat yang lebih adalah kebaikan rizkimu
    dan aktifitas yang hanya melayani nafsumu adalah rizkimu yang buruk *

 

 Ada tiga jenis manusia, dalam menyikapi rizki yang dianugerahkan Allah kepadanya.


     2. Rizki adalah hasil ikhtiar, dengan disertai  kesadaran akan anugerah Allah didalamnya.

     Kesadaran bahwa rizki harus dijemput, bersamaan dengan hadirnya pemahaman bahwa didalamnya ada campur tangan dari Sang Maha Memberi, menjadikan seseorang menyertakan roja' ( berharap ) dan syukur dalam  melangkah  ketika mencari dan mendapatkan. Kerelaan untuk menempuh aktifitas yang notabene payah, melelahkan, atau terpenjara dalam kungkungan rutinitas yang 'bisa tidak bisa' harus dijalani, adalah bekal dasar untuk mencari, karena ' derajat sabar ' sebenarnya merupakan jalinan kerelaan dan kerelaan yang lain yang dirangkai memanjang.  Disini, ' penjara ' dan  ' kebebasan '  hanyalah dua garis yang dirapatkan sejajar dan hanya dibatasi selaput tipis, dimana keduanya kadang nampak semakna.


     Sebagaimana 'iman' yang senantiasa mengalami pasang naik dan surut, demikian pula halnya dengan hadirnya rasa syukur di hati  kita kepada Sang Pemberi.  Pasang naik dan surutnya 'syukur' itulah yang akan meletakkan kita pada posisi yang mana di tiga jenis manusia dalam menyikapi rizki yang dianugerahkan Allah kepadanya yang sedang kita bicarakan. Bila kerelaan dan kerelaan yang lain berjalin dan terangkai memanjang, pada titik kepanjangan tertentu akan melabuhkan pemiliknya pada definisi 'sabar'. Bila sabar dan sabar yang lain berjalin dan terangkai memanjang maka pada titik kepanjangan tertentu akan menjadikan pemiliknya pada maqam 'ridho', sebuah kedudukan puncak (definisi tentang rizki 3) yang akan kita bicarakan pada tulisan berikutnya.


     Namun kenyataannya, orang yang memahami bahwa rizki adalah hasil ikhtiar dengan menyertakan kesadaran akan anugerah Allah (tentang rizki 2), adalah sedikit sekali yang mampu untuk sampai pada kedudukan sabar. Keterpesonaan hati pada hiasan dunia, menjadikan hati cenderung toleran terhadap masuknya debu debu pemburam hati yang mengganggu kecemerlangannya. Ini pulalah yang menciptakan celah kebebasan pada syetan untuk masuk dan memorak poranda jalinan kerelaan dan kerelaan yang lain yang sudah terangkai, menjadi serpihan yang tak bermakna. Debu debu pemburam hati adalah: riya, ujub, kesombongan diri, sum'ah, ghibah, su'udlon dan namimah.


     Adapun jenis manusia pada definisi kedua ini terbagi menjadi dua :

  1. Orang yang mampu mendekatkan diri kepada Allah ( mengimpimentasikan Syukur ), ketika keadaan dirinya diberikan kelapangan yang luas akan karunia Allah, namun cenderung membangkang ketika disempitkan rizkinya, menurun drastis kedudukan syukurnya. 
  2. Orang yang justru mampu hudlur keharibaan Allah disaat sempitnya, namun cenderung kepada fujur ketika rizki dilapangkan.
     Keduanya bukanlah suatu keadaan yang sempurna, namun berjuang untuk tetap konstan pada pencapaian ini pun merupakan perjuangan yang berat. Artinya, tidak tergelincirnya kita ke dalam definisi satu pun merupakan pencapaian yang luar biasa. Demikian pula dengan pengakuan diri akan ketidak sempurnaan diri itu selangkah lebih baik, daripada langkah langkah menuju perbaikan diri yang tanpa menyertakan  pengakuan tersebut.

     Dunia ini memang mempesona. Gebyarnya menyemburatkan warna warni memabukkan, seperti pelangi yang menegas usai hujan. Pesona dunia mampu membutakan mata, menutup lubang telinga dan mematikan rasa. Pesona dunia mudah saja melambungkan hayal, mengacaukan fikiran dan menjungkir balikan iman yang susah payah diretas manusia. Namun semoga, pesonanya tidak sampai menyentuh relung terdalam hati kita, sehingga kita dibutakannya. Aku, kamu, kamu, kamu dan kamu: memang tidak sempurna.
Wallahu a'lam.   


* debu debu pemburam hati akan kita bicarakan nanti.

Tentang Rizki 1

Minggu, 27 Mei 2012
* Segala aktifitas yang kau lakukan sepanjang usia yang diberikan Allah kepadamu adalah rizkimu
    segala aktifitas yang kau perjuangkan untuk memperoleh nilai manfaat yang lebih adalah kebaikan rizkimu
    dan aktifitas yang hanya melayani nafsumu adalah rizkimu yang buruk *

     Ada tiga jenis manusia, dalam menyikapi rizki yang dianugerahkan Allah kepadanya.

1. Rizki adalah uang.
   
     Betapa banyak orang yang memandang rizki dari sudut pandang yang sangat terbatas. Pada tataran ini, seseorang hanya terpaku pada apa yang hendak diperolehnya, tanpa memandang darimana sesungguhnya rizki itu bermula. Karena melupakan Sang Maha Pemberi, maka definisi yang melingkar di kepala hanya jumlah yang banyak. Karena bila memperoleh jumlah yang banyak, tentu akan mengatasi kebutuhan yang banyak.
Mereka akan teridentifikasi dengan ekspresi sedih atau berduka bila mendapat sedikit, dan riang gembira bila mendapat yang banyak, atau bahkan 'marah' bila tak mendapatkan, dan 'senang' bila mendapatkan


     Karena mengesampingkan Sang Maha Pemberi, maka kecenderungan yang muncul adalah langkah yang dipenuhi kelalai dariNya. Akibat berikutnya adalah : ' halal yang tidak thoyyib', ' halal yang tercemari syubhat',  ' syubhat yang dihalalkan ' dan, ' haram yang dibuat halal '.


     Bila aku merampas kepemilikan orang lain dengan paksa berarti aku berada disini, karena aku adalah rampok. Bila aku secara sembunyi atau diam diam mengambil milik orang lain berarti aku berada disini, karena aku maling, penipu dan koruptor. Bila aku berjualan tidak dengan menyertakan kejujuran berarti aku berada disini, karena aku mencampur sesuatu yang sebenarnya halal dengan tindakan yang haram. dan seterusnya.

     Kelalaian adalah kelalaian. Disini, fujur yang ada dalam dirinya tak kuasa menolak pelukan syetan, dan terbujuk bisikan yang menjanjikan. Bisikan pertama dengan 'kefakiran', merasa terdesak kebutuhan dan segeranya pemenuhan. Berikutnya adalah pemahaman yang menggiurkan, bahwa dengan beroleh uang yang banyak, maka banyak pula dari problematika hidup yang dapat diselesaikan. Yang bermain disini adalah nafsu dan akal yang tidak menyertakan hati, atau sedikit sekali menyertakan hati, atau disertakan penuh namun hati sudah terlanjur tak mampu ambil bagian, karena sudah terlanjur kelam, atau hitam.

     Memang sudah disabdakan, bahwa permulaan dari sebuah kesalahan adalah ' cinta dunia ' dan ' panjangnya angan angan ' . Cinta dunia melahirkan keserakahan dan panjangnya angan menjadikan kita terkikis rasa malunya terhadap diri sendiri, juga terhadap Tuhan.
Cinta dunia hanya akan mengantar kita pada kebodohan diri akan pemahaman hakikat dunia itu sendiri. Dan panjang angan hanya akan mengantar kita pada seolah olah: Tuhan tidak punya urusan.
Wallahu a'lam.


KEDUDUKAN DOA



Umumnya orang berdoa agar terwujud apa yang diinginkan. Berikhtiar agar tercapai apa yang dicita-citakan. Padahal maksud Allah Swt memerintahkan kita berdoa dan berupaya, semata-mata agar tumbuh eksistensi kehambaan kita yang serba fakir, serba hina, serba tak berdaya dan lemah, muncul terus menerus di hadapanNya. Bukan agar kita bisa mewujudkan apa yang kita kehendaki, karena hal demikian sama dengan memaksa Allah Swt, untuk menuruti kehendak kita.

Pemahaman yang sempit tentang Allah Swt, akan terus menerus berkutat pada sikap seakan-akan Allah-lah yang mengikuti selera kita, bukan kehendak kita ini akibat dari kehendakNya, perwujudan yang ada karena kehendakNya, bukan disebabkan oleh kemauan kita.

Ketika manusia berdoa dengan seluruh kehinaan dirinya, kebutuhan dirinya dan kelemahannya serta ketidakberdayaannya yang muncul,itulah hikmah utama dibalik berdoa. Ketika kita berikhtiar, pada saat yang sama kita menyadari betapa tak berdayanya kita. Sebab kalau kita berdaya, pasti tidak perlu lagi berikhtiar dan berjuang.

Di sisi lain, kita dituntut untuk terus menerus menegakkan Hak-hak KetuhananNya, bahwa Allah berhak disembah, berhak dimohoni pertolongan, berhak dijadikan andalan dan gantungan, tempat penyerahan diri, berhak dipuji dan dipatuhi, berhak dengan segala sifat Rububiyahnya yang Maha Mencukupi, Maha Mulia, Maha Kuasa dan Maha Kuat. Semua harus terus tegak di hadapan kita. Dan itu semua bisa terjadi manakala kehambaan kita hadir.

Ironi-ironi dalam ikhtiar dan doa kita sering terjadi dimana kita lebih memposisikan sebaga 'tuhan', dengan banyak memerintah Tuhan agar menuruti kehendak kita, mengikuti kemauan kita dan menjelmakan proyeksi-proyeksi kita. Diam-diam kita menciptakan tuhan dan berhala dalam jiwa kita, agar dipatuhi oleh Allah Sang Pencipta. Inilah piciknya iman kita kepadaNya, yang sering memaksaNya menuruti keinginan kita, dan pilihan-pilihan kita, bukan pilihanNya.

Karena itu hakikatnya, menjalankan perintah doa itu lebih utama dibanding terwujudnya doa kita (ijabah). Ikhtiar kita hakikatnya lebih utama daripada hasil yang kita inginkan. Perjuangan kita hakikatnya lebih utama dibanding kemenangan dan kesuksesannya. Ibadah lebih utama dibading balasan-balasanNya. Karena taat, doa, dan ikhtiar adalah menjalankan perintahNya. Sedangkan balasan, ijabah, sukses, kemenangan, bukan urusan manusia dan tidak diperintah olehNya.

Banyak orang berdoa, beribadah, berikhtiar, tetapi bertambah stress dan gelisah. Itu semua disebabkan oleh niat dan cara pandangnya kepada Allah  Swt yang sempit. Sehingga, bukan qalbunya yang menghadap Allah Swt, tetapi nafsunya yang didesakkan kepadaNya.

Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily, ra berkata: “Janganlah bagian yang membuatmu senang ketika berdoa, adalah hajat-hajatmu terpenuhi, bukan kesenangan bermunajat kepada Tuhanmu. Hal demikian bisa menyebabkan anda termasuk orang yang terhijab.”

Bahwa kita ditakdirkan bisa bermunajat kepadaNya, seharusnya menjadi puncak kebahagiaan kita. Bukan pada tercapainya hajat kebutuhan kita. Kenapa kita bisa terhijab? Karena kita kehilangan Allah Swt, ketika berdoa, karena yang tampak adalah kebutuhan dan hajat kita, bukan Allah Tempat bermunajat kita.

Marilah kita letakkan doa kita, pada kedudukan yang sebenarnya, agar kita memperoleh hikmah dibalik perintahNya kepada kita untuk berdoa. Diperolehnya hikmah, jauh lebih nilainya dibanding segala permintaan kita.  Kalaulah kemudian doa kita terwujud, mendapat ijabah sesuai dengan keinginan kita,    itu pun semata karena karunia dari Sang Maha Karunia,  bukan diperoleh dari intensitas dan kwalitas doa kita. Wallahu a'lam.


HIKMAH

Kamis, 24 Mei 2012


* pada sesuatu yang tersurat, ada tersembunyi sesuatu yang tersirat
   carilah persepsi lain dari yang kau lihat, kau dengar
   dan kau rasakan *


Pada satu kesempatan saya berdialogh dengan teman. Pada saat itu ada kata katanya yang tak pernah saya lupakan bahwa ilmu yang kita pelajari hanyalah terbatas. Mungkin dapat kita pahami sebagai sebuah ilmu namun belum tentu akan menjadi sebuah “pelajaran”. Ilmu yang paling tinggi nilainya adalah Ilmu Hikmah.  Itulah pembelajaran dari Allah. Karena Allah langsung yang mengajarkan manusia untuk sebuah ilmu. Saya bertanya , bagaimana cara Allah mengajarkan manusia ilmu hikmah itu ? Ya lewat peristiwa , katanya. Peristiwa yang terjadi dalam keseharian kita,yang kita lihat, kita dengar, kita rasakan.  Bahkan seluruh alam semesta ini adalah ayat ayat Allah.Semakin banyak ilmu hikmah kita dapatkan semakin terang jalan kepada kesempurnaan. Semakin dekat kita kepada Allah.


Namun ilmu Hikmah itu tidak akan bisa didapat oleh manusia bila dia tidak mempelajari ilmu syariat. Pemahaman akan Rukun Iman, Rukun Islam harus sempurna. Pemahanan Ilmu Tauhid harus juga sempurna melalui AL Quran dan Hadith. BIla ini sudah dipahami maka selanjutnya kita akan bisa memahami Ilmu Hikmah itu. Demikian kata taman itu mencoba memberikan gambaran bagaimana proses terjadi pendidikan antara ALlah dengan manusia secara langsung. Jadi ada protokol yang harus dilewati.  Ilmu syariat adalah jembatan untuk kita sampai keladang hikmah. Ingatlah firman Allah "Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni' mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu al-Kitab dan al-­Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui". (QS. al-Baqarah: 151).  "Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah . Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Ahzab: 34)
***
Ketika seseorang terkena musibah karena sesuatu sebab , dia sadar bahwa Allah sedang menguji kesabarannya. Dia kembali kepada Allah dengan sabar, Kemudian dia lewati musibah itu dengna ikhlas. Maka orang itu telah mendapatkan “ sesuatu “ dari bencana yang datang padanya. Itulah ilmu hikmah. Ketika seseorang dihadapakan kepada kelapangan dunia. Hidupnya penuh dengan kebahagiaan.  Dia kembali kepada Allah bahwa dia sadar semua itu karena berkah dari Allah. Kebahagiaan itu dilewatinya dengan penuh kasih kepada siapapun. Dia tebarkan kelebihannnya kepada orang lain yang kurang. Dia , sudah mendapatkan ilmu hikmah.  Ketika dia di zolimi orang , dan dia ingat akan Allah. Dia tidak dendam. Ketika orang itu datang padanya, dia tetap tersenyum dan memaafkan. Maka dia telah mendapat ilmu hikmah dari Allah.  Ketika dia menjadi terpilih sebagai pemimpin maka dia kembalikan kekuasaan itu kepada Allah. Dia lewati tugas kepemimpinan itu sebagai amanah dari Allah maka dia akan rendah hati, kerja keras, jujur dan penuh tanggung jawab. Maka dia telah mendapatkan ilmu hikmah.


Baik buruk yang datang padanya, dia sikapi sebagai sebuah “pelajaran” dari Allah yang tak lain mendidiknya untuk sabar dan ikhlas, yang hanya berserah diri kepada Allah dan cukuplah Allah sebagai tempat kembali. Demikian uraian dari teman itu. Saya terhenyak. Benarlah bahwa banyak hal dalam hidup ini kita lebih focus kepada ilmu yang tertulis . Kita tekuni ilmu itu dengan mempelajarinya lewat analisa, hipotesa, hapalan sampai mengulangnya berkali kali agar lancar dan fasih. Kemudian kita mencoba mencerahkan orang lain dengan ilmu itu agar orang lain juga tahu. Kita paham makna sabar dan ikhlas namun cepat berkeluh kesah bila usaha belum berhasil, pemerintah yang brengsek, anak yang bandel, istri yang cerewet, teman yang culas. Kita marah dan mengatakan orang lain salah,dan hanya kita yang benar. Mudah tergoda dengan kekuasaan dan harta hingga lupa kepada amanah , juga lupa kepada mereka yang lemah. Itu artinya ilmu kita dapat namun ilmu hikmah dari Allah tidak kita dapat. Karena mungkin kita juga ber prasangka buruk kepada Allah.


Dalam hidup ini, kata tetaplah kata kata. Rencana tetaplah rencana. Pengetahuan tetaplah pengetahuan. Namun apa yang terjadi dan bagaimana sikap kita maka itulah sesungguhnya value kita sebagai manusia. Esensi bagaimana menerapkan ilmu yang kita pelajari dan mendapatkan hikmah dari peristiwa yang datang kepada kita. Itu tandanya bahwa lewat pengetahuan dunia , kita bisa membaca dialogh yang ditebarkan oleh Allah didunia dalam bentuk implementasi keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Orang yang kaya ilmu namun miskin implementasi maka dia tidak lebih hidup dalam dunia yang sempit. Orang yang miskin ilmu namun kaya implementasi maka dia hidup dalam kelapangan tak bertepi. Apapun yang terjadi , disikapinya sebagai tanda Allah sedang berdialogh dengannya tentang sabar dan ikhlas, bersikap tetap tawadhu, melangkah dengan penuh istiqamah, berdamai dalam  ikhsan. Maka manusia itu telah mendapatkan kekayaan ilmu dari Allah , dia telah mendapatkan ilmu hikmah.


Ya disadari atau tidak, sebetulnya Allah setiap hari, setiap waktu berdialogh dengan kita. Allah mendidik kita, mengajari kita, menebarkan ilmu kepada kita. Masalahnya apakah kita mau mendengar dan mendapatkan hikmah dari itu semua?
wallahu alam bissawab

 

Goresan Pena Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger