KEDUDUKAN DOA



Umumnya orang berdoa agar terwujud apa yang diinginkan. Berikhtiar agar tercapai apa yang dicita-citakan. Padahal maksud Allah Swt memerintahkan kita berdoa dan berupaya, semata-mata agar tumbuh eksistensi kehambaan kita yang serba fakir, serba hina, serba tak berdaya dan lemah, muncul terus menerus di hadapanNya. Bukan agar kita bisa mewujudkan apa yang kita kehendaki, karena hal demikian sama dengan memaksa Allah Swt, untuk menuruti kehendak kita.

Pemahaman yang sempit tentang Allah Swt, akan terus menerus berkutat pada sikap seakan-akan Allah-lah yang mengikuti selera kita, bukan kehendak kita ini akibat dari kehendakNya, perwujudan yang ada karena kehendakNya, bukan disebabkan oleh kemauan kita.

Ketika manusia berdoa dengan seluruh kehinaan dirinya, kebutuhan dirinya dan kelemahannya serta ketidakberdayaannya yang muncul,itulah hikmah utama dibalik berdoa. Ketika kita berikhtiar, pada saat yang sama kita menyadari betapa tak berdayanya kita. Sebab kalau kita berdaya, pasti tidak perlu lagi berikhtiar dan berjuang.

Di sisi lain, kita dituntut untuk terus menerus menegakkan Hak-hak KetuhananNya, bahwa Allah berhak disembah, berhak dimohoni pertolongan, berhak dijadikan andalan dan gantungan, tempat penyerahan diri, berhak dipuji dan dipatuhi, berhak dengan segala sifat Rububiyahnya yang Maha Mencukupi, Maha Mulia, Maha Kuasa dan Maha Kuat. Semua harus terus tegak di hadapan kita. Dan itu semua bisa terjadi manakala kehambaan kita hadir.

Ironi-ironi dalam ikhtiar dan doa kita sering terjadi dimana kita lebih memposisikan sebaga 'tuhan', dengan banyak memerintah Tuhan agar menuruti kehendak kita, mengikuti kemauan kita dan menjelmakan proyeksi-proyeksi kita. Diam-diam kita menciptakan tuhan dan berhala dalam jiwa kita, agar dipatuhi oleh Allah Sang Pencipta. Inilah piciknya iman kita kepadaNya, yang sering memaksaNya menuruti keinginan kita, dan pilihan-pilihan kita, bukan pilihanNya.

Karena itu hakikatnya, menjalankan perintah doa itu lebih utama dibanding terwujudnya doa kita (ijabah). Ikhtiar kita hakikatnya lebih utama daripada hasil yang kita inginkan. Perjuangan kita hakikatnya lebih utama dibanding kemenangan dan kesuksesannya. Ibadah lebih utama dibading balasan-balasanNya. Karena taat, doa, dan ikhtiar adalah menjalankan perintahNya. Sedangkan balasan, ijabah, sukses, kemenangan, bukan urusan manusia dan tidak diperintah olehNya.

Banyak orang berdoa, beribadah, berikhtiar, tetapi bertambah stress dan gelisah. Itu semua disebabkan oleh niat dan cara pandangnya kepada Allah  Swt yang sempit. Sehingga, bukan qalbunya yang menghadap Allah Swt, tetapi nafsunya yang didesakkan kepadaNya.

Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily, ra berkata: “Janganlah bagian yang membuatmu senang ketika berdoa, adalah hajat-hajatmu terpenuhi, bukan kesenangan bermunajat kepada Tuhanmu. Hal demikian bisa menyebabkan anda termasuk orang yang terhijab.”

Bahwa kita ditakdirkan bisa bermunajat kepadaNya, seharusnya menjadi puncak kebahagiaan kita. Bukan pada tercapainya hajat kebutuhan kita. Kenapa kita bisa terhijab? Karena kita kehilangan Allah Swt, ketika berdoa, karena yang tampak adalah kebutuhan dan hajat kita, bukan Allah Tempat bermunajat kita.

Marilah kita letakkan doa kita, pada kedudukan yang sebenarnya, agar kita memperoleh hikmah dibalik perintahNya kepada kita untuk berdoa. Diperolehnya hikmah, jauh lebih nilainya dibanding segala permintaan kita.  Kalaulah kemudian doa kita terwujud, mendapat ijabah sesuai dengan keinginan kita,    itu pun semata karena karunia dari Sang Maha Karunia,  bukan diperoleh dari intensitas dan kwalitas doa kita. Wallahu a'lam.


0 komentar:

Posting Komentar

 

Goresan Pena Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger