HAKIKAT CINTA




* Cinta adalah cinta. Ia hanya selembar kertas merah jingga, yang hendak kau tulis apa *



      Mendefinisikan cinta, sama halnya dengan mengumpulkan seribu kepala, ditanya dengan satu pertanyaan yang sama, dan keluarlah dari mulut meraka seribu kata yang sama sekali berbeda.
Itulah cinta. Relatif sifatnya, nisbi adanya. Ia bisa berarti 'suka', 'memberi', 'mengatur', 'menempeleng', bahkan 'membunuh' pun bisa dilakukan untuk alih alih yang namanya cinta.
     Contoh dari 'suka' adalah pemuda yang berkata pada gadisnya ' aku suka padamu'. Dari memberi: ' kuberikan ia bunga, karena aku mencintainya' atau bentuk pemberian apapun yang mengatasnamakan cinta. Dari mengatur: ' sayang, cuciin baju,ya? atau, ' bila kau mencintaiku, janganlah kau bergaul dengan si anu, Ia memberi pengaruh buruk pada pandangan hidupmu'.
Atau: ' sudah kutempeleng Ia. Tapi itu kulakukan semata mata karena aku mencintainya'.
' sudah kubunuh orang yang menyelingkuhi istriku,mudah mudahan polisi tidak tahu. Aku pikir, itulah satu satunya cara untuk menyelamatkan cintaku'.
Itulah cinta. Ia dapat berbentuk perhatian, pemberian toleransi, penyerahan total, pengekangan, pemaksaan bahkan sampai pada tindak kriminal. Semua perilaku, dari yang sangat baik, biasa biasa saja sampai yang paling buruk pun, dapat dialamatkan atas nama cinta.
     Apa yang digambarkan diatas hanyalah bentuk dari ekspresi cinta dimana sebuah perilaku, terpuji  atau tercela, akan kembali kepada pelakunya. Esensi dari cinta itu sendiri adalah kecondongan atau, kecenderungan.
Kata 'condong' , akan klop sebagai sinonim dari kata cinta. Adapun kata yang mengikutinya, akan mendefinisikan ' cinta ' itu sendiri. Jadi, obyek akan menjelaskan sendiri kedudukannya, selaras dengan nilai kepantasan.
Seperti kata ' aku cinta supermi ', dapat berubah menjadi ' aku condong suka pada supermi ', adapun supermi yang kedudukannya sebagai obyek, dengan sendirinya akan menjelaskan kedudukannya sebagai makanan.
Maka, 'aku suka supermi ' akan lebih tepat menjadi: aku condong (cenderung) menyukai makanan supermi, daripada indomi, doremi, sarimi dan seterusnya.
' Aku mencintaimu Riska ', artinya  aku cenderung suka sama kamu Riska, bukan kepada Nana , Nini , Nani, atau pembantu sebelah. Disini, karena obyeknya seseorang ( person ), maka Riska tidak dapat disejajarkan dengan Supermi. Sebab bila disejajarkan bunyinya akan begini: ' aku suka makan kamu, Riska, daripada makan Nana, Nini, atau Nani. Kacau bukan?.
Disini,kita akan dihadapkan kembali pada kerumitan bila hendak mendefinisikan 'condong suka' pada contoh dimuka. Condong suka pada apanya?. Jawabannya, sebagaimana dikemukakan dimuka, adalah jawaban yang berbeda dari seribu kepala yang ditanya, karena motif dari mencinta akan sangat bergantung dari isi kepala masing masing.
Namun, cinta yang mengandung kemurnian akan mengarah pada hal hal yang bernuansa keagungan seperti: pengorbanan, pemberian tanpa pamrih, kepatuhan, mengalah, totalitas penghambaan, motifasi, optimisme, kesetiaan dan lain lain.
Namun sebaliknya, bila kemurnian cinta sudah terkontaminasi ' virus cinta ' ,maka nuansa yang mengikutinya pun negatif adanya seperti : mengorbankan, pamrih, mengatur, memaksa, memanfaatkan, penyelewengan, mengancam, dendam, menghukum dan lain lain.
     Nah demikianlah adanya.Berada disebelah manakan keadaan cintamu berada?. Kamu sendirilah yang dapat menjawabnya.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Goresan Pena Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger