segala aktifitas yang kau perjuangkan untuk memperoleh nilai manfaat yang lebih adalah kebaikan rizkimu
dan aktifitas yang hanya melayani nafsumu adalah rizkimu yang buruk *
Ada tiga jenis manusia, dalam menyikapi rizki yang dianugerahkan Allah kepadanya.
1. Rizki adalah uang.
Betapa banyak orang yang memandang rizki dari sudut pandang yang sangat terbatas. Pada tataran ini, seseorang hanya terpaku pada apa yang hendak diperolehnya, tanpa memandang darimana sesungguhnya rizki itu bermula. Karena melupakan Sang Maha Pemberi, maka definisi yang melingkar di kepala hanya jumlah yang banyak. Karena bila memperoleh jumlah yang banyak, tentu akan mengatasi kebutuhan yang banyak.
Mereka akan teridentifikasi dengan ekspresi sedih atau berduka bila mendapat sedikit, dan riang gembira bila mendapat yang banyak, atau bahkan 'marah' bila tak mendapatkan, dan 'senang' bila mendapatkan
Karena mengesampingkan Sang Maha Pemberi, maka kecenderungan yang muncul adalah langkah yang dipenuhi kelalai dariNya. Akibat berikutnya adalah : ' halal yang tidak thoyyib', ' halal yang tercemari syubhat', ' syubhat yang dihalalkan ' dan, ' haram yang dibuat halal '.
Bila aku merampas kepemilikan orang lain dengan paksa berarti aku berada disini, karena aku adalah rampok. Bila aku secara sembunyi atau diam diam mengambil milik orang lain berarti aku berada disini, karena aku maling, penipu dan koruptor. Bila aku berjualan tidak dengan menyertakan kejujuran berarti aku berada disini, karena aku mencampur sesuatu yang sebenarnya halal dengan tindakan yang haram. dan seterusnya.
Kelalaian adalah kelalaian. Disini, fujur yang ada dalam dirinya tak kuasa menolak pelukan syetan, dan terbujuk bisikan yang menjanjikan. Bisikan pertama dengan 'kefakiran', merasa terdesak kebutuhan dan segeranya pemenuhan. Berikutnya adalah pemahaman yang menggiurkan, bahwa dengan beroleh uang yang banyak, maka banyak pula dari problematika hidup yang dapat diselesaikan. Yang bermain disini adalah nafsu dan akal yang tidak menyertakan hati, atau sedikit sekali menyertakan hati, atau disertakan penuh namun hati sudah terlanjur tak mampu ambil bagian, karena sudah terlanjur kelam, atau hitam.
Memang sudah disabdakan, bahwa permulaan dari sebuah kesalahan adalah ' cinta dunia ' dan ' panjangnya angan angan ' . Cinta dunia melahirkan keserakahan dan panjangnya angan menjadikan kita terkikis rasa malunya terhadap diri sendiri, juga terhadap Tuhan.
Cinta dunia hanya akan mengantar kita pada kebodohan diri akan pemahaman hakikat dunia itu sendiri. Dan panjang angan hanya akan mengantar kita pada seolah olah: Tuhan tidak punya urusan.
Wallahu a'lam.

0 komentar:
Posting Komentar